DP, Bengkulu Utara — Masyarakat Bengkulu Utara kembali dikejutkan oleh ulah tak pantas dari seorang pejabat. Kadispora diduga mengalami tekanan fikiran yang cukup berat dan berdampak dengan perilakunya memarahi Wartawan tanpa alasan jelas. Diduga Kadispora alami gangguan jiwa.
Saat beberapa rekan wartawan yang datang bersilaturahmi ke kediamannya, Kadispora tiba-tiba melontarkan pernyataan yang membuat pihak wartawan heran.
“Saya lagi pusing, Jangan tantang saya! Kepala saya ini lebih keras dari batu!” ucapnya lantang sambil menunjuk-nunjuk salah satu wartawan yang hadir.
Sontak, sikap itu mengundang reaksi keras dari kalangan media. Atas sikap tersebut, Kadispora tidak hanya dianggap tidak beretika, tetapi tindakan Kadispora itu juga dinilai sebagai indikasi gangguan jiwa dan sebaiknya segera lakukan tes kejiwaan.
“Kami tidak paham alasan beliau emosi, tapi untuk ketenangan semua pihak, termasuk sang pejabat sendiri ,alangkah baiknya beliau melakukan medical check-up menyeluruh. Ini saran bijak,” ujar salah satu wartawan yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Wartawan lainnya menyebut bahwa tindakan Kadispora bukan hanya menunjukkan ketidaksiapan menghadapi kritik atau kehadiran pers, tapi bisa jadi mengindikasikan beban mental yang belum terselesaikan.
Pemerintah daerah harus diisi oleh orang-orang yang sehat, kalau memang ingin MAHABBAH. Secara Jasmani Kadispora terlihat sehat, tetapi Rohaninya terlihat kurang, sedangkan kesehatan Jasmani dan rohani harus seimbang.
Sumber lain juga menyebut, kemarahan Kadispora diduga dipicu oleh isu mobil dinas yang dipinjamkan ke pihak ketiga dan dikembalikan dalam kondisi rusak. Belum ada klarifikasi resmi dari pihak Dinas, tapi yang jadi sasaran emosi justru wartawan yang tak tahu-menahu soal itu.
“Kami menyayangkan insiden ini. Kalau memang Kadispora sedang tidak stabil secara mental atau fisik, maka sudah sewajarnya beliau cuti sementara dan menjalani medical check-up. Pejabat publik tak boleh dibiarkan meledak-ledak seperti ini,” tegasnya.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak Kadispora. Sementara, publik mulai mempertanyakan apakah ini hanya ledakan emosi biasa, atau cerminan dari masalah yang lebih besar, baik di dalam diri pejabat, maupun di dalam institusinya. (Red)

