DP, Bengkulu Utara – Sejak matahari belum tinggi, Alun-alun Rajo Malim Paduko sudah dipenuhi warna. Anak-anak berlarian mengejar bayangan egrang yang menjulang, deretan musik tradisional mulai mengalun, sementara para orang tua duduk berkelompok menyaksikan geliat kegiatan yang jarang lagi mereka lihat dalam keseharian.
Sabtu (15/11/2025) menjadi hari yang berbeda bagi masyarakat Bengkulu Utara. Dinas Pemuda dan Olahraga menghadirkan Festival Olahraga Rekreasi dan Tradisional, sebuah gebyar budaya yang memadukan masa lalu dan masa kini dalam suasana penuh energi dan kebersamaan.
Di tengah riuhnya penonton, Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, SE., M.A.P., membuka festival dengan semangat yang selaras dengan suasana acara. Baginya, festival ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi ruang temu antara kekuatan budaya, kreativitas masyarakat, dan semangat sportivitas.
“di Bengkulu Utara ini, semua etnis dan budaya kita kawinkan dengan olahraga,” ucap Bupati Arie, yang sejak lama dikenal dekat dengan komunitas seni dan olahraga daerah.
Ribuan Warga dan Permainan yang Menghidupkan Memori
Ribuan warga yang datang sejak pagi disuguhi aneka perlombaan tradisional seperti egrang, panahan tradisional, hingga permainan rakyat dari berbagai daerah Nusantara. Setiap sudut alun-alun seolah berubah menjadi panggung memori kolektif masyarakat—menghidupkan kembali permainan yang dulu menjadi keseharian anak-anak di kampung.
Di sisi lain, panggung budaya mengalirkan tarian daerah, musik tradisional, hingga atraksi seni. Suara serunai, denting alat musik bambu, dan tepuk tangan penonton berpadu menjadi satu kesan yang sulit dilepaskan: Bengkulu Utara tengah merayakan dirinya sendiri.
Festival sebagai Ruang Belajar bagi Generasi Muda
Dalam sambutannya, Bupati Arie menekankan bahwa festival ini juga menjadi jembatan generasi. Di tengah era digital, ketika permainan modern mengisi layar gawai, ia mengingatkan bahwa tradisi adalah identitas yang tidak boleh hilang.
Ia menegaskan, kekayaan budaya lokal adalah modal penting pembentukan karakter dan daya tarik pariwisata daerah.
“Bengkulu Utara ini miniaturnya Indonesia. Semua budaya dan olahraga tradisional kita tampilkan untuk mengangkat kearifan lokal yang ada,” katanya.
Arah Baru Pariwisata Bengkulu Utara
Tidak berhenti di situ, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan festival ini agenda tahunan unggulan. Bupati Arie bersama Wakil Bupati Sumarno memandang festival ini sebagai peluang besar untuk memperkuat citra pariwisata Bengkulu Utara di tingkat regional maupun nasional.
Perpaduan seni, olahraga, dan budaya dalam satu gelaran bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga tuntunan—memberi nilai edukatif, sosial, dan kultural bagi masyarakat.
“Rasa memiliki terhadap budaya, seni, dan olahraga dapat menciptakan kebersamaan dalam keberagaman,” tutup Bupati Arie.
Di alun-alun yang diiringi gerakan matahari yang mulai condong ke arah barat, gema festival hari ini meninggalkan satu pesan: bahwa tradisi tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu ruang untuk kembali hidup. (Red)

