DP, Bengkulu Utara – Usaha di sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) menjadi salah satu penyumbang signifikan timbulan sampah di Kabupaten Bengkulu Utara, terutama sampah organik yang berasal dari sisa makanan dan limbah dapur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bengkulu Utara, Parpen Siregar, S.TP., M.Si., mengatakan tingginya volume sampah organik dari sektor Horeka memerlukan strategi pengelolaan khusus yang berkelanjutan. Saat ini, jumlah pelaku usaha HOREKA di Bengkulu Utara tercatat sebanyak 12 hotel, 15 losmen, dan 269 restoran serta kafe.
“Besarnya timbulan sampah dari sektor Horeka dipengaruhi oleh tingginya aktivitas konsumsi serta operasional usaha, khususnya dalam penyediaan makanan dan minuman,” ujar Parpen.
Ia menjelaskan, sampah organik yang dihasilkan umumnya berasal dari sisa makanan pelanggan serta limbah dapur seperti potongan sayur, buah, dan tulang hewan. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah jenis ini dapat menimbulkan bau tidak sedap serta mempercepat pembentukan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Selain sampah organik, sektor Horeka juga menghasilkan sampah anorganik dalam jumlah besar, seperti plastik, kertas, dan kaca dari kemasan makanan dan minuman. Sampah tersebut sebagian besar masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa melalui proses daur ulang yang optimal.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bengkulu Utara mendorong pelaku usaha Horeka untuk menerapkan praktik pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Pengurangan sampah difokuskan pada dua aspek utama, yakni pengelolaan sampah organik dan pengendalian sampah anorganik.
Untuk sampah organik, metode komposting akan diterapkan guna mengolah limbah makanan menjadi pupuk organik yang dapat dimanfaatkan kembali untuk sektor pertanian maupun penghijauan kota. Selain itu, budidaya maggot menjadi solusi inovatif karena mampu mengolah sisa makanan secara cepat dan menghasilkan pakan ternak serta bahan baku pupuk organik.
Sementara itu, pengurangan sampah anorganik akan dilakukan melalui pembatasan penggunaan kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam. Pelaku usaha didorong beralih ke kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti bahan biodegradable atau kemasan yang dapat digunakan kembali (reusable).
Dengan penerapan praktik pengelolaan sampah ramah lingkungan di sektor Horeka, diharapkan dampak lingkungan dari limbah usaha dapat ditekan secara signifikan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Kabupaten Bengkulu Utara dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan mencapai target pengurangan sampah di masa mendatang.
Berdasarkan hasil penelusuran langsung oleh awak media terhadap beberapa badan usaha perhotelan dan restoran, ternyata benar bahwasanya pihak pengelola tempat usaha belum menyediakan tong sampah berdasarkan klasifikasi sampah itu sendiri. Pihak pengelola hanya menyediakan satu tong sampah yang menyebabkan sampah organik dan anorganik bercampur menjadi satu.
“Setiap kamar kami sudah menyediakan tong sampah. jika nanti sudah penuh, petugas kami mentransfer sampah tersebut ke tempat penampungan sementara yang ada di depan.” ujar pihak pengelola dari balik meja resepsionis.
Dengan demikian, untuk menciptakan lingkungan yang bersih, pihak pengelola dapat menambahkan satu orang karyawan sebagai housekeeping. Jika hal tersebut dilakukan, pengelola bukan saja meningkatkan kualitas usaha, tetapi juga mengurangi angka pengangguran atau para pencari kerja. (Red)

