Saat Seragam Cokelat Menyatu dengan Petani, Ketahanan Pangan Disemai Bersama

0
110

DP, Bengkulu Utara – Senja mulai turun di Desa Taba Padang Kol, Jumat (20/2/2026). Langit perlahan berubah jingga ketika sejumlah personel berseragam cokelat berdiri di hamparan lahan seluas kurang lebih satu hektare. Di tangan mereka, bukan hanya Tugal dan benih jagung, tetapi juga semangat kebersamaan.

Sore itu, jajaran Polda Bengkulu, melalui Polres Bengkulu Utara dan Polsek Kerkap, melaksanakan tanam jagung serentak di wilayah hukum Polsek Kerkap. Lokasinya berada di lahan milik warga, Bapak Sanuri, yang dengan sukarela membuka ruang bagi program tersebut.

Di atas tanah yang masih segar terbuka, Kapolsek Kerkap bersama Kepala Desa Taba Padang Kol, Perangkat Desa, anggota Polsek, dan sang pemilik lahan tampak berbaur tanpa sekat. Tidak ada jarak antara aparat dan masyarakat. Semua berdiri sejajar, menugal tanah, memasukkan benih, lalu menutupnya dengan harapan yang sama: panen yang baik dan masa depan pangan yang lebih kuat.

Bapak Sanuri terlihat sumringah. Baginya, lahan yang selama ini digarap secara mandiri kini menjadi bagian dari gerakan bersama. “Kalau dikerjakan bersama seperti ini, rasanya lebih ringan,” ungkapnya singkat di sela kegiatan.

Program penanaman jagung serentak ini bukan sekadar kegiatan simbolis. Ia menjadi bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan, sebuah isu yang kian relevan di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim. Jagung dipilih bukan tanpa alasan, komoditas ini menjadi salah satu penopang penting kebutuhan pangan dan pakan ternak masyarakat.

Kapolsek Kerkap Ipda Bobby Setiawan, SH dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kehadiran kepolisian tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam pembangunan. Ketahanan pangan, menurutnya, adalah tanggung jawab bersama.

Menariknya, suasana kegiatan berlangsung santai namun penuh makna. Tawa ringan terdengar ketika beberapa anggota polisi mencoba teknik menanam ala petani setempat. Perangkat desa pun tak segan memberi arahan. Di momen seperti itu, sekat formalitas mencair, digantikan rasa saling menghargai.

Hamparan lahan kurang lebih satu hektare di Desa Taba Padang Kol, sore itu menjadi saksi sinergi yang sederhana namun berdampak. Benih-benih jagung yang ditanam bukan hanya simbol produksi pertanian, tetapi juga simbol kolaborasi.

Menjelang magrib, kegiatan ditutup dengan do’a bersama. Tanah telah ditanami, harapan telah disemai. Kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar. Namun lebih dari itu, yang tertinggal adalah pesan kuat: ketika aparat dan masyarakat berjalan beriringan, ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata di atas tanah sendiri. (Red)

Artikulli paraprakHelmi Hasan Lantik Herwan Antoni sebagai Sekda Definitif
Artikulli tjetërMiris, Balai Penyuluhan Pertanian di Kemumu Terbengkalai

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini