DP, Bengkulu Utara – Munculnya pernyataan oknum Perangkat Desa yang mengatakan keuangan Desa terpakai untuk koordinasi ke inspektorat, maka dapat dikatagorikan perbuatan yang tidak menyenangkan bagi Inspektorat. Namun sikap Irban I Inspektorat Kabupaten Bengkulu Utara menyimpan keanehan. Bukannya mengklarifikasi hal itu kepada pihak yang mengucapkan, malah justru mengintervensi Wartawan. (26/05/2025).
Dalam rekaman rapat Desa Tanjung Sari, terdengar pengakuan dari salah seorang Perangkat Desa bahwa dana hasil kebun Kas Desa digunakan untuk “Pengamanan dan koordinasi begitulah biasanya”, termasuk Inspektorat. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Perangkat Desa dalam suatu rapat, rapat tersebut dilakukan lantaran desakan masyarakat mempertanyakan hasil kebun Desa.
Berdasarkan data dan fakta tersebut, kemudian media Zona Raflesia memberitakan hal tersebut. Sesuai tugas dan fungsinya menjalankan kontrol sosial (Control of The Change), terhadap penggunaan anggaran desa, yang sejak lama dipertanyakan oleh masyarakat setempat.
Bukannya memanggil oknum Prangkat Desa yang mengeluarkan pernyataan, Inspektorat malah mengirim surat panggilan ke wartawan yang memberitakan hal tersebut. Seharusnya Klarifikasi ditujukan kepada sumber utama, bukan malah ditujukan kepada Jurnalis yang memberitakan. Jurnalis yang bernaung di media massa bertugas sebagai corong publik.
Normatifnya, sikap Inspektorat melalui Irban I hendaknya berterimakasih kepada awak media, yang sudah membantu menjaga nama baik Inspektorat, bukan malah mendapatkan intervensi. Seharusnya selaku pihak yang dirugikan oleh Perangkat Desa Tanjung Sari, Inspektorat Kabupaten Bengkulu Utara melakukan klarifikasi kepada Prangkat Desa Tanjung Sari. Bukan saja klarifikasi, bahkan inspektorat tidak salah bila mengambil langkah hukum, demi menjaga nama baik Inspektorat.
Upaya yang dilakukan oleh Irban I, malah terkesan mengintimidasi kebebasan pers. Dalam mewujudkan demokrasi yang positif, hendaklah seorang pejabat itu menonjolkan integritasnya, bukan malah memperlihatkan sikap risih karena tak bersih. Apalagi Inspektorat itu dikenal publik sebagai penyelamat keuangan negara, bukan malah menimbulkan kesan cawe-cawe dengan pihak yang melenceng.
“Seharusnya Inspektorat bersikap profesional, panggil dan klarifikasi ke Perangkat Desa yang menyebut nama lembaga mereka dalam rapat. Bukan malah memanggil Wartawan, seolah media yang menciptakan cerita,” kata pimpinan media Zona Raflesia.
Langkah Inspektorat melalui Irban I tersebut pun memantik sorotan publik. Bahkan beberapa pihak menilai, manuver Irban I dinilai sebagai bentuk upaya pengalihan isu. Bahkan terlihat seperti sikap yang mengakui keterlibatan itu. Pihak Inspektorat terlihat risih, karena khawatir kedok negatifnya terbongkar. Patut diduga ketakutan terbongkar praktik-praktik yang selama ini mereka mainkan.
“Kalau memang merasa difitnah, ya buktikan dengan fakta. Jangan malah mencoba membungkam media dengan dalih klarifikasi,” tambah pimpinan media Zona Raflesia.
Pimpinan media zona raflesia, menegaskan kembali bahwa informasi yang dimuat dalam pemberitaannya, bersumber dari rekaman rapat resmi dan laporan warga, bukan hasil reka-reka. Bahkan pimpinan media Zona Raflesia menantang keberanian pihak Inspektorat agar perkara ini dapat dibawa ke ranah hukum.
“Kalau pihak Inspektorat merasa keberatan atas pemberitaan, silahkan sampaikan saja hak jawabnya. Bukan membelokkan fakta seolah media yang harus bertanggungjawab atas ucapan Perangkat Desa di depan forum publik.” Pimpinan media Zona Raflesia.
Sementara Nila Nandia Sari, S.Ip selaku Irban I Inspektorat Kabupaten Bengkulu Utara, saat dikonfirmasi mengenai langkah apa yang akan dilakukan pihak Inspektorat pasca disebutkan sebagai pihak yang terlibat dalam penggunaan keuangan Desa Tanjung Sari. Nila Nandia Sari, S.Ip tidak mau berkomentar banyak. Nila Nandia Sari, S.Ip hanya menjawab silahkan awak media langsung tanyakan ke Inspektur.
“Kami punya pimpinan, silahkan saja langsung tanyakan itu ke Inspektur.” Pungkas Nila sembari meninggalkan ruangannya, sembari menghindari bidikan kamera. (Red)

